Aplikasi Neuro Logical Level Pada Kecerdasan Spiritual

Aplikasi Neuro Logical Level NLP

Dalam Membentuk Kecerdasan Spiritual

Oleh:

Yamani Muhammad Dira, S.Psi, MM, C.HRNLP, CT.HRNLP, CM.NLP, C.NLC, CT.NLP

Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan spiritual adalah kemampuan seseorang untuk memberikan makna spiritual terhadap nilai-nilai fitrah manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan dan makhluk sosial dalam dirinya. Seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual mampu memberikan makna dalam hubungannya dengan Sang Pencipta dan hubungannya dengan sesama makhluk di sekitarnya.  Sehingga, seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual memiliki kualitas hubungan yang tinggi kepada Tuhannya dan kepada sesama makhluk di sekitarnya, dengan demikian dia dapat menjawab persoalan yang berkaitan dengan makna hidup dan hidup bermakna. Kecerdasan spiritual memiliki dimensi-dimensi yang terdiri dari: 1). Pemikiran Spiritual. Kecerdasan memberikan makna spiritual terhadap pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia seutuhnya (kamil) sebagai makhluk Tuhan yang dibekali dengan akal. Hal ini dapat disebut juga dengan pemikiran spiritual, yang dengannya seseorang dapat menjawab persoalan makna hidup dan dapat menjalankan hidup bermakna.  Pemikiran spiritual merupakan pemikiran yang dilandasi nilai-nilai ke-Tuhanan, menuju manusia seutuhnya yang dibekali akal untuk menjawab persoalan makna hidup dan bagaimana menjalankan hidup yang bermakna. 2). Jiwa Spiritual. Kecerdasan memberikan makna spiritual terhadap fungsi jiwa manusia yang bersifat fitrah, menuju manusia seutuhnya (mukhlishin) yang jiwa selalu merasakan kedekatan dengan Tuhannya. Atas kedekatan dengan Tuhannya jiwanya menjadi jujur, hati tidak iri, dengki, dan benci, menerima jati diri, mampu mengatasi depresi, mampu mengatasi perasaan gelisah, menjauhi sesuatu yang menyakiti jiwa (sombong, berbangga diri, boros, kikir, malas, pesimis), memegang prinsip-prinsip syariat, keseimbangan emosi, lapang dada, spontan, menerima kehidupan, mampu menguasai dan mengontrol diri, sederhana, ambisius, percaya diri.  Hal ini dapat dikatakan dengan jiwa spiritual.  Jiwa spiritual merupakan naluri perasaan yang dilandasi oleh nilai-nilai ke-Tuhanan, menuju manusia seutuhnya yang dapat merasakan makna hidup dan merasakan hidup yang bermakna pada jiwanya. 3). Tindakan/Prilaku Spiritual. Kecerdasan memberikan makna spiritual terhadap tindakan/prilaku yang bersifat fitrah, menuju manusia seutuhnya (‘amilin) yang setiap tindakan dan kegiatannya dalam kebaikan hanya untuk  Tuhannya semata. Atas tindakan/perbuatannya yang didasari oleh nilai-nilai ke-Tuhanan terwujudlah sikap sosial yang baik dalam interaksinya dengan sesama makhluk di sekitarnya. Mencintai kedua orang tua, mencintai pendamping hidup, mencintai anak, membantu orang yang membutuhkan, amanah, berani mengungkap kebenaran, menjauhi hal-hal yang menyakiti orang lain (seperti bohong, menipu, mencuri, zina, membunuh, saksi palsu, memakan harta anak yatim, menyebar fitnah, iri, dengki, ghibah, namimah, khianat, zalim) jujur terhadap orang lain, mencintai pekerjaan, mempunyai tanggung jawab sosial. Dimensi ini dapat disebut dengan tindakan spiritual. Tindakan spiritual merupakan  tindakan/ perbuatan  yang di landasi oleh nilai-nilai ke-Tuhanan, menuju manusia seutuhnya (sebaik-baik manusia) yang atas tindakan/prilakunya memiliki manfaat bagi dirinya dan lingkungan di sekitarnya. Dengan  tindakan/prilaku yang bermanfaat dia dapat menjalankan hidup yang bermakna. 

Aplikasi Neuro Logical Level NLP

Ada beberapa level di mana perubahan dapat terjadi. Seperti apa pun, lebih mudah mengubah hal-hal pada tingkat yang jauh lebih rendah daripada yang lebih kompleks. Menggunakan level dan memecahnya menjadi langkah yang lebih kecil akan memastikan kesuksesan. Model yang juga membantu dalam berpikir tentang pembelajaran dan perubahan telah terjadi dikembangkan oleh Robert Dills dari karya Gregory Bateson. Model ini disebut Neuro Logical Level. Itu telah banyak diadopsi dalam pemikiran NLP. Dalam membentuk kecerdasan spiritual yang merupakan tujuan dari pencapaian individu, adalah dengan mengaplikasikannya pada level-level sebagai berikut:

Lingkungan Spiritual:

Tempat ibadah, Institusi Syariah, Rumah Tangga yang Islami, Bergaul dengan orang-orang sholeh.

Perilaku Spiritual:          

1). Senantiasa berfikir sesuai nilai-nilai ke Tuhanan, menuju manusia seutuhnya yang dibekali akal untuk menjawab persoalan makna hidup dan bagaimana menjalankan hidup yang bermakna. 2). Selalu merasakan kedekatan dengan Tuhannya. Atas kedekatan dengan Tuhannya jiwanya menjadi jujur, hati tidak iri, dengki, dan benci, menerima jati diri, mampu mengatasi depresi, mampu mengatasi perasaan gelisah, menjauhi sesuatu yang menyakiti jiwa (sombong, berbangga diri, boros, kikir, malas, pesimis), memegang prinsip-prinsip syariat, keseimbangan emosi, lapang dada, spontan, menerima kehidupan, mampu menguasai dan mengontrol diri, sederhana, ambisius, percaya diri. 3). Senantiasa melakukan tindakan/perbuatan yang didasari oleh nilai-nilai ke-Tuhanan agar terwujud sikap sosial yang baik dalam interaksinya dengan sesama makhluk di sekitarnya.

Kemampuan Spiritual:   

1. Mampu memberikan makna spiritual terhadap pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia seutuhnya (kamil) sebagai makhluk Tuhan yang dibekali dengan akal. 2). Mampu memberikan makna spiritual terhadap fungsi jiwa manusia yang bersifat fitrah, menuju manusia seutuhnya (mukhlishin) yang jiwa selalu merasakan kedekatan dengan Tuhannya. 3). Mampu memberikan makna spiritual terhadap tindakan/prilaku yang bersifat fitrah, menuju manusia seutuhnya (‘amilin) yang setiap tindakan dan kegiatannya dalam kebaikan hanya untuk  Tuhannya semata.

Keyakinan Spiritual:      

Yakin dengan kecerdasan spiritual yang dimiliki dapat menggapai kebahagian dalam  hidup dan hidup penuh makna.

Identitas Spiritual:          

Human Excellent (Insan Kamil)

Kecerdasan Spiritual:

Memiliki kualitas hubungan yang tinggi kepada Tuhannya dan kepada sesama makhluk di sekitarnya, dengan demikian dia dapat menjawab persoalan yang berkaitan dengan makna hidup dan hidup bermakna.

Adapun latihan untuk membangun sumber daya kecerdasan spiritual dan kongruensi dengan menggunakan neurologis level, dapat dilakukan melalui proses secara mental, dan melakukannya secara fisik agar  lebih kuat. Lakukan langkah-langkah berikut:

Mulailah dengan berdiri di mana Anda dapat maju  enam langkah.

1. Letakkan level di lantai (Lingkungan Spiritual, Perilaku Spiritual, Kemampuan Spiritual, Keyakinan Spiritual, Identitas Spiritual, Kecerdasan Spiritual)

2. Minta orang tersebut maju memilih sasaran menaiki level.

3. Istirahat

3. Kemudian minta orang tersebut mundur memilih sasaran menuruni level.

4. Istirahat

5. Tes.

Sumber: Berbagai buku, situs web dan materi online.

Dimensi Kecerdasan Spiritual

DIMENSI KECERDASAN SPIRITUAL

Oleh:

Yamani Muhammad Dira, S.Psi, MM

 C.HRNLP, CT.HRNLP, CM.NLP, C.NLC, CT. NLP

Zohar dan Marshall  mengungkapkan ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecerdasan spiritual [1]yaitu :

a.  Sel saraf otak

Otak menjadi jembatan antara kehidupan bathin dan lahiriah kita. Ia mampu menjalankan semua ini karena bersifat kompleks, luwes, adaptif dan mampu  mengorganisasikan diri. Menurut penelitian yang dilakukan pada era 1990-an dengan menggunakan WEG (Magneto – Encephalo –Graphy) membuktikan bahwa osilasi sel saraf otak pada rentang 40 Hz merupakan basis bagi kecerdasan spiritual.

b. Titik Tuhan (God spot)

     Dalam penelitian Rama Chandra menemukan adanya bagian dalam otak, yaitu lobus temporal yang meningkat ketika pengalaman religius atau spiritual berlangsung. Dia menyebutnya sebagai titik Tuhan atau God Spot. Titik Tuhan memainkan peran biologis yang menentukan dalam pengalaman spiritual. Namun demikian, titik Tuhan bukan merupakan syarat mutlak dalam kecerdasan spiritual. Perlu adanya integrasi antara seluruh bagian otak, seluruh aspek dari dan seluruh segi kehidupan.

Sedangkan menurut Sinetar, faktor-faktor yang mendukung kecerdasan spiritual otoritas intuitif, yaitu kejujuran, keadilan, kesamaan perlakuan terhadap semua orang dan mempunyai faktor yang mendorong (motivasi) kecerdasan spiritual. Suatu dorongan yang disertai oleh pandangan luas tentang tuntutan hidup dan komitmen untuk memenuhinya[2].

Menurut Tasmara, ada  tiga sebab yang membuat seseorang dapat terhambat secara spiritual[3], yaitu :

1) Tidak mengembangkan beberapa bagian dari dirinya sendiri sama sekali.

2) Telah mengembangkan beberapa bagian, namun tidak proporsional.

3) Bertentangannya atau buruknya hubungan antara bagian-bagian.

Selain itu faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan spiritual menurut Agustian[4] adalah  inner value (nilai-nilai spiritual dari dalam) yang berasal dari dalam diri (suara hati), seperti transparency (keterbukaan), responsibilities (tanggung jawab),  accountabilities (kepercayaan),  fairness (keadilan) dan social wareness (kepedulian sosial). Faktor kedua adalah  drive yaitu dorongan dan usaha untuk mencapai kebenaran dan kebahagiaan.

      Dengan adanya factor-faktor yang membentuk kecerdasan spiritual tersebut, maka dimensi-dimensi yang terdapat

  1. Dimensi Pemikiran Spiritual

Pikiran  adalah  tindakan mental. Sehat pikiran berarti sehat pula mental seseorang, secara umum[5]. Dengan berpikir, manusia bisa membedakan yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, antara yang halal dan yang haram, antara yang positif dan negative. Dengan begitu, ia bisa memilih yang cocok bagi dirinya dan bertanggung jawab atas pilihannya[6].

Pemikiran yang bersifat fitrah, merupakan potensi berfikir yang dimiliki oleh manusia. Potensi ini lebih kepada bagaimana seseorang secara fitrahnya berfikir untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Sang Pencipta. Pada dimensi ini, kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan memberikan makna spiritual terhadap pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia seutuhnya (kamil) sebagai makhluk Tuhan yang dibekali dengan akal.

Kecerdasan spiritual adalah kemampuan seseorang untuk  mendengarkan  suara  hati  sebagai  bisikan  kebenaran yang berasal dari Allah SWT,  ketika seseorang  mengambil  keputusan atau  melakukan pilihan, berempati, dan beradaptasi. Potensi  ini sangat ditentukan oleh upaya membersihkan qalbu  dan  memberikan pencerahan qalbu, sehingga mampu memberikan  nasehat dan mengarahkan  tindakan, bahkan akhirnya menuntut seseorang dalam mengambil tiap-tiap keputusan[7]

Menurut Zohar dan Marshall[8] tanda-tanda kecerdasan spiritual yang telah berkembang baik dalam diri seseorang dapat dilihat pada aspek:

– Tingkat kesadaran diri yang tinggi. Kemampuan seseorang yang mencakup usaha untuk mengetahui batas wilayah yang nyaman untuk dirinya, yang mendorong seseorang untuk merenungkan apa yang dipercayai dan apa yang dianggap bernilai, berusaha untuk memperhatikan segala macam kejadian dan peristiwa dengan berpegang pada agama yang diyakininya.

– Berpikir secara holistic. Kecenderungan seseorang untuk melihat keterkaitan berbagai hal. Kecenderungan untuk bertanya mengapa dan bagaimana jika untuk mencari jawaban-jawaban yang mendasar.

  • Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai- nilai. Kualitas hidup seseorang yang didasarkan pada tujuan hidup yang pasti dan berpegang pada nilai-nilai yang mampu mendorong untuk mencapai tujuan tersebut.

Dalam pandangan lain, Sinetar menuliskan beberapa aspek dalam kecerdasan spiritual[9], salah satunya yaitu, kemampuan seni untuk memilih. Kemampuan untuk memilih dan menata hingga ke bagian-bagian terkecil ekspresi hidupnya berdasarkan suatu visi batin yang tetap dan kuat yang memungkinkan hidup mengorganisasikan bakat.

Pada sisi lain, Mahayana dalam Nggermanto  menyebutkan beberapa ciri orang yang mempunyai kecerdasan spiritual antara lain :

  • Memiliki prinsip dan visi yang kuat. Prinsip adalah kebenaran yang dalam dan mendasar ia sebagai pedoman prilaku yang mempunyai nilai yang langgeng dan produktif. Prinsip manusia secara jelas tidak akan berubah, yang berubah adalah cara kita mengerti dan melihat prinsip tersebut. Semakin banyak kita tahu mengenai prinsip yang benar semakin besar kebebasan pribadi kita untuk bertindak dengan bijaksana.
  • Memaknai. Makna bersifat substansial, berdimensi spiritual. Makna adalah penentu identitas sesuatu yang paling signifikan. Sesorang yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi akan mampu memaknai atau menemukan makna terdalam dari segala sisi kehidupan, baik karunia tuhan yang berupa kenikmatan atau ujian dari_Nya. Ia juga merupakan manisfestasi kasih sayang dari_Nya. Ujiannya hanyalah pendewasaan spiritual manusia.

Selain itu, indikator kecerdasan spiritual menurut Tasmara adalah  :

  • Memiliki Visi. Memiliki visi maksudnya adalah cara melihat hari esok, menetapkan visi berdasarkan alasan-alasan yang dapat dipertanggung jawabkan. Visi atau tujuan setiap yang cerdas secara spiritual akan menjadikan pertemuan dengan Allah sebagai puncak dari pertanyaan visi pribadinya yang kemudian dijabarkan dalam bentuk perbuatan baik yang terukur dan terarah.
  • Berdzikir dan Berdoa. Berdzikir dan berdoa merupakan sarana sekaligus motivasi diri untuk menampakan wajah seorang yang bertanggung jawab. Zikir dan doa mengingatkan perjalanan untuk pulang dan berjumpa dengan yang dikasihinya. Zikir dan doa juga menumbuhkan kepercayaan diri karena menumbuhkan keinginan untuk memberikan yang terbaik pada saat seseorang kembali kelak, selain itu akan berpendirian teguh tanpa keraguan dalam melaksanakan amanahnya.

Dari beberapa pandangan yang disebutkan di atas, dimensi kecerdasan spiritual dalam hal ini dapat disebut juga dengan pemikiran spiritual, yang dengannya seseorang dapat menjawab persoalan makna hidup dan dapat menjalankan hidup bermakna. Pemikiran spiritual akan mempengaruhi cara berfikir seseorang dalam menjawab persoalan makna hidup yang timbul dalam dirinya, dan dapat mengetahui bagaimana dia menjalankan hidup yang bermakna.

  • Jiwa Spiritual

Jiwa yang bersifat fitrah, merupakan bentuk potensi murni yang dimiliki manusia. Fitrah dalam arti murni (Al-Ikhlas), hal ini dapat dikatakan karena manusia lahir dengan membawa berbagai sifat, salah satu diantaranya adalah kemurnian (keikhlasan) dalam menjalankan suatu aktivitas[10].  Kecerdasan spiritual pada diri seseorang memiliki tanda-tanda pada beberapa aspek berikut[11]:

  • Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit. Kemampuan  seseorang dimana di saat dia mengalami sakit, ia akan menyadari keterbatasan dirinya, dan menjadi lebih dekat dengan Tuhan dan yakin bahwa hanya Tuhan yang akan memberikan kesembuhan.
  • Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan. Kemampuan seseorang dalam menghadapi penderitaan dan menjadikan penderitaan yang dialami sebagai motivasi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di kemudian hari.
  • Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu. Seseorang yang mempunyai kecerdasan spiritual tinggi mengetahui bahwa ketika dia merugikan orang lain, maka berarti dia merugikan dirinya sendiri sehingga mereka enggan untuk melakukan kerugian yang tidak perlu.

Dalam hal ini, ciri orang yang mempunyai kecerdasan spiritual antara lain adalah kesulitan dan penderitaan. Pelajaran yang paling berarti dalam kehidupan manusia adalah pada waktu ia sadar bahwa itu adalah bagian penting dari subtsansi yang akan mengisi dan mendewasakan sehingga ia menjadi lebih matang, kuat, dan lebih siap menjalani kehidupan yang penuh rintangan dan penderitaan. Pelajaran tersebut akan mengukuhkan pribadinya setelah ia dapat menjalani dan berhasil untuk mendapatkan apa maksud terdalam dari pelajaran tadi. Kesulitan akan mengasah menumbuh kembangkan, hingga pada proses pematangan dimensi spiritual manusia. Kecerdasan spiritual mampu mentransformasikan kesulitan menjadi suatu medan penyempurnaan dan pendidikan spiritual yang bermakna. Kecerdasan spiritual mampu memajukan seseorang karena pelajaran dari kesulitan dan kepekaan terhadap hati nuraninya[12].

Pada sisi lain Sinetar juga menyebutkan bahwa aspek kecerdasan spiritual yang dimiliki seseorang diantaranya adalah:

–   Kemampuan mengikuti cinta. Memilih antara harapan-harapan orang lain di mata   

     seseorang penting atau ia Cintai.

–   Disiplin pengorbanan diri. Mau berkorban untuk orang lain, pemaaf tidak prasangka mudah untuk memberi kepada orang lain dan selalu ingin membuat orang lain bahagia.

         Ada sepuluh aspek-aspek dalam kecerdasan spiritual yang disebut sebagai “Ten Graces” yang secara kesatuan membentuk SQ[13], beberapa diantaranya, yaitu:

–   Belas kasih: memahami diri sendiri dan orang lain.

–   Memberi dan menerima.

–   Kekuatan  tawa – tertawa  adalah sebuah kualitas SQ yang penting sekali.  Memanfaatkannya dapat mengurangi tingkat stress dan umumnya membuat seseorang lebih ceria dan lebih bahagia.

–   Kekuatan ritual – agar mampu meningkatkan stabilitas spiritual dan emosional, mengurangi stress, menjadi lebih tekun, lebih yakin, lebih kuat dan lebih percaya diri.

–   Ketenteraman.

–   Kekuatan cinta – yang diperlukan hanyalah cinta.

Sedangkan menurut Sinetar, faktor-faktor yang mendukung kecerdasan spiritual otoritas intuitif, yaitu kejujuran, keadilan, kesamaan perlakuan terhadap semua orang dan mempunyai faktor yang mendorong (motivasi) kecerdasan spiritual. Suatu dorongan yang disertai oleh pandangan luas tentang tuntutan hidup dan komitmen untuk memenuhinya[14].

Lebih jauh Usman Najati, menyebutkan beberapa indikator  tentang kesehatan jiwa diantaranya sebagai berikut[15]:

1. Aspek Ruh. Aspek ruhani merupakan aspek yang berkaitan dengan jiwa seseorang ataupun hati nurani. Mengaplikasikan rukun Iman, selalu merasakan kedekatan dengan Allah, memenuhi kebutuhan-kebutuhan dengan sesuatu yang halal, selalu berdzikir kepada Allah.

2. Aspek Jiwa. Jujur terhadap jiwa, hati tidak iri, dengki, dan benci, menerima jati diri, mampu mengatasi depresi, mampu mengatasi perasaan gelisah, menjauhi sesuatu yang menyakiti jiwa (sombong, berbangga diri, boros, kikir, malas, pesimis), memegang prinsip-prinsip syariat, keseimbangan emosi, lapang dada, spontan, menerima kehidupan, mampu menguasai dan mengontrol diri, sederhana, ambisius, percaya diri.

Selain itu faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan spiritual menurut Agustian[16] adalah  inner value (nilai-nilai spiritual dari dalam) yang berasal dari dalam diri (suara hati), seperti transparency (keterbukaan), responsibilities (tanggung jawab),  accountabilities (kepercayaan),  fairness (keadilan) dan social wareness (kepedulian sosial). Faktor kedua adalah  drive yaitu dorongan dan usaha untuk mencapai kebenaran dan kebahagiaan.

Selain itu, indikator kecerdasan spiritual menurut Tasmara adalah  :

  • Merasakan Kehadiran Allah. Seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual akan merasakan dirinya berada dalam limpahan karunia Allah, dalam suka dan duka atau dalam sempit dan lapang tetap merasakan kebahagiaan karena bertawakal kepada Allah.
  • Memiliki kualitas sabar. Sabar  adalah  terpatrinya sebuah  harapan yang kuat untuk menggapai cita-cita atau harapan, sehingga orang yang putus asa berarti orang yang kehilangan harapan atau  terputusnya cita-cita. Sabar berarti memiliki ketabahan dan daya yang sangat kuat untuk menerima beban, ujian atau tantangan tanpa sedikitpun mengubah harapan untuk menuai hasil yang telah ditanam.
  • Memiliki empati. Empati adalah kemampuan seseorang untuk memahami orang lain. Merasakan rintihan dan mendengarkan debar jantung, sehingga mereka mampu beradaptasi dengan merasakan kondisi batiniah dari orang lain.
  • Berjiwa besar. Jiwa besar adalah keberanian untuk memaafkan dan sekaligus melupakan perbuatan yang pernah dilakukan oleh orang lain.

Dalam dimensi jiwa yang bersifat firah ini, kecerdasan spiritual adalah kemampuan memberikan makna spiritual terhadap fungsi jiwa manusia yang bersifat fitrah, menuju manusia seutuhnya (mukhlishin) yang jiwa selalu merasakan kedekatan dengan Tuhannya. Atas kedekatan dengan Tuhannya jiwanya menjadi jujur, hati tidak iri, dengki, dan benci, menerima jati diri, mampu mengatasi depresi, mampu mengatasi perasaan gelisah, menjauhi sesuatu yang menyakiti jiwa (sombong, berbangga diri, boros, kikir, malas, pesimis), memegang prinsip-prinsip syariat, keseimbangan emosi, lapang dada, spontan, menerima kehidupan, mampu menguasai dan mengontrol diri, sederhana, ambisius, percaya diri. Hal ini dapat dikatakan dengan jiwa spiritual. Jiwa spiritual merupakan naluri perasaan yang dilandasi oleh nilai-nilai ke-Tuhanan, menuju manusia seutuhnya yang dapat merasakan makna hidup dan merasakan hidup yang bermakna pada jiwanya

  • Tindakan Spiritual

Tindakan/Prilaku yang bersifat fitrah. Fitrah dalam artian potensi dasar manusia sebagai alat untuk mengabdi dan ma’rifatullah. Penafsiran demikian banyak dikemukakan oleh para filosof dan fuqaha’. Para filosof yang beraliran empirisme memandang aktivitas fitrah sebagai tolok ukur pemaknaannya. Demikian halnya dengan para fuqaha’ yang memandang haliah manusia sebagai cerminan dari jiwanya, sehingga hukum dikatakan menurut apa yang terlihat, bukan pada hakikat dibalik perbuatan tersebut. Firman Allah:

            “ Mengapa aku tidak menyembah (Allah) yang telah menciptakanku”. (QS. Yasin:22)

Ayat di atas memaknai lafadz laa’budu dengan lafadz fathara, yang membawa implikasi pada wujud fitrah yang ditandai dengan ibadahnya kepada Sang Pencipta[17].

Kecerdasan spiritual pada dimensi ini adalah kemampuan memberikan makna spiritual terhadap tindakan/prilaku yang bersifat fitrah, menuju manusia seutuhnya (‘amilin) yang setiap tindakan dan kegiatannya dalam kebaikan hanya untuk  Tuhannya semata. Atas tindakan/perbuatannya yang didasari oleh nilai-nilai ke-Tuhanan terwujudlah sikap sosial yang baik dalam interaksinya dengan sesama makhluk di sekitarnya. Mencintai kedua orang tua, mencintai pendamping hidup, mencintai anak, membantu orang yang membutuhkan, amanah, berani mengungkap kebenaran, menjauhi hal-hal yang menyakiti orang lain (seperti bohong, menipu, mencuri, zina, membunuh, saksi palsu, memakan harta anak yatim, menyebar fitnah, iri, dengki, ghibah, namimah, khianat, zalim) jujur terhadap orang lain, mencintai pekerjaan, mempunyai tanggung jawab sosial.

Beberapa tanda yang dimiliki seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual yang berkembang baik dalam dirinya menurut Zohar dan Marshall, yaitu[18]:

  • Kemampuan bersikap fleksibel. Kemampuan seseorang untuk bersikap adaptif secara  spontan dan aktif, memiliki pertimbangan yang dapat dipertanggungjawabkan di saat mengalami dilematis.
  • Menjadi pribadi mandiri. Kemampuan seseorang yang memilki kemudahan untuk bekerja  melawan konvensi dan tidak tergantung dengan orang lain.

Dalam pandangan lain, Sinetar menuliskan beberapa aspek dalam kecerdasan spiritual diantaranya, yaitu[19]:

–   Kemampuan seni untuk melindungi diri. Individu mempelajari keadaan dirinya,  baik bakat maupun keterbatasannya untuk menciptakan dan menata pilihan terbaiknya.

–   Kedewasaan yang diperlihatkan. Kedewasaan berarti seseorang tidak   menyembunyikan kekuatankekuatannya dan ketakutan.

Pada sisi lain, Usman Najati pun menyebutkan aspek tentang kesehatan jiwa pada diri sesorang diantaranya sebagai berikut:  

–  Aspek Biologis. Aspek biologis berkaitan dengan kesehatan seseorang. Terbebas dari penyakit, tidak cacat, membentuk konse  positif  terhadap fisik, menjaga kesehatan, tidak membebani fisik kecuali dalam batas-batas batas kemampuannya.

–  Aspek Sosial. Aspek sosial berkaitan dengan hubungan dengan sesama manusia.    Mencintai kedua orang tua, mencintai pendamping hidup, mencintai anak, membantu orang yang membutuhkan, amanah, berani mengungkap kebenaran, menjauhi hal-hal yang menyakiti orang lain (seperti bohong, menipu, mencuri, zina, membunuh, saksi palsu, memakan harta anak yatim, menyebar fitnah, iri, dengki, ghibah, namimah, khianat, zalim) jujur terhadap orang lain, mencintai pekerjaan, mempunyai tanggung jawab sosial.

Mahayana dalam Nggermanto  menyebutkan beberapa ciri orang yang mempunyai kecerdasan spiritual antara lain adalah kesatuan dan keragaman. Seorang dengan spiritual yang tinggi mampu melihat ketunggalan dalam keragaman. Ia adalah prinsip yang mendasari kecerdasan spiritual, sebagaimana Buzan (2003) mengatakan bahwa “kecerdasan spiritual meliputi melihat gambaran yang menyeluruh, ia termotivasi oleh nilai pribadi yang mencangkup usaha menjangkau sesuatu selain kepentingan pribadi demi kepentingan masyarakat”.

                 Selain itu, indikator kecerdasan spiritual menurut Tasmara adalah  :

  • Cenderung pada kebaikan. Orang yang selalu cenderung kepada kebaikan dan kebenaran adalah bertipe manusia yang tanggungjawab. Islah bisa dikategorikan  dalam  cenderung pada kebaikan. Islah adalah memberikan makna suatu kondisi atau pekerjaan yang memberi manfaat serta berkesesuaian (conform).
  • Melayani dan menolong. Budaya melayani dan menolong (salvation) merupakan bagian dari citra diri seorang muslim. Mereka sadar bahwa kehadiran dirinya tidak terlepas dari tanggungjawab terhadap lingkungan. Individu ini akan senantiasa terbuka hatinya terhadap keberadaan oranglain dan merasa terpanggil atau ada semacam ketukan yang sangat keras dari lubuk hatinya untuk melayani.

Dimensi kecerdasan spiritual ini dapat disebut juga dengan tindakan spiritual. Tindakan spiritual merupakan  tindakan/ perbuatan  yang di landasi oleh nilai-nilai ke-Tuhanan, menuju manusia seutuhnya (sebaik-baik manusia) yang atas tindakan/prilakunya memiliki manfaat bagi dirinya dan lingkungan di sekitarnya. Dengan  tindakan/prilaku yang bermanfaat dia dapat menjalankan hidup yang bermakna. 


[1] Zohar and Marshall, op.cit., hal. 35-38

[2]Sinetar, Kecerdasan Spiritual, ibid, h. 42

[3] Tasmara, op.cit., hal. 6.

[4]Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Emotional Spiritual Quotient Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam.Jakarta: Arga Wijaya Persada, 2001), h. 45

[5] M. Utsman Najati, op.cit., hal. 1.

   [6] Ibrahim ElFiky, 2019. Terapi Berpikir Positif, Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, hal.3

[7]Tasmara, op.cit., hal.  48

[8]Danah Zohar dan Ian Marshall,2007. SQ : Kecerdasan Spiritua. Bandung: Mizan, hal 14

[9] Marsha Sinetar, 2001. Kecerdasan Spiritual. Bandung: Mizan Pustaka, hal. 65

[10] Sururin.2004.Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: PT Grafindo Persada, hal.34

[11] Danah Zohar dan Ian Marshall,2007. SQ : Kecerdasan Spiritua. Bandung: Mizan, hal 14

[12] Agus Nggermanto, 2005. Quantum Quotient:Kecerdasan Quantum Cara

Praktis Melejitkan IQ,EQ dan SQ yang Harmonis. Bandung: Nuansa h. 113

[13] Tony Buzan., The Power Of Spiritusl Intellegence: 10 ways to Tap into Your Spiritual Genius,…,xxv-xxviii.

[14]Sinetar, Kecerdasan Spiritual, ibid, h. 42

[15]Ibid., hal. 4-5

[16]Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Emotional Spiritual Quotient Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam.Jakarta: Arga Wijaya Persada, 2001), h. 45

[17] Sururin.2004.Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: PT Grafindo Persada, hal.35

[18] Danah Zohar dan Ian Marshall,2007. SQ : Kecerdasan Spiritua. Bandung: Mizan, hal 14

[19] Marsha Sinetar, 2001. Kecerdasan Spiritual. Bandung: Mizan Pustaka, hal. 65

Definisi Kecerdasan Spiritual | SQ-NLP

NUANSA KECERDASAN SPIRITUAL
DALAM BINGKAI
NEURO LINGUISTIK PSYCHOLOGI
Spiritual Quotient – Neuro Linguistic Programming
(SQ-NLP)

Oleh:

Yamani Muhammad Dira, S.Psi, MM, CT.HRNLP, CM.NLP, C.NLC, CT.NLP


 
KECERDASAN SPIRITUAL
 
DEFINISI
 
Kecerdasan dalam bahasa Inggris disebut ’intelligence’ dan bahasa Arab disebut ’al-dzaka’. Menurut Claparede and Stern dalam Sarwono, mengatakan intelligence adalah penyesuaian diri secara mental terhadap situasi atau kondisi baru[1]. Selanjutnya David Wechsler dalam Sarwono, memberi definisi intelligence adalah kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah, serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif. Kemampuan itu adalah kemampuan untuk mengolah lebih jauh lagi akan hal yang diamati[2]. Chaplin kemudian merumuskan tiga definisi kecerdasan, yaitu: (1) kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif; (2) kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif, yang meliputi empat unsur, seperti memahami, berpendapat, mengontrol, dan mengritik; dan (3) kemampuan memahami pertalian-pertalian dan belajar dengan cepat sekali[3]
Spiritual, berasal dari kata ‘spirit’.  Beberapa arti menurut bahasa adalah satu zat atau makhluk immaterial, biasanya bersifat ketuhanan menurut aslinya, yang diberi sifat dari banyak ciri karakteristik manusia, selain itu diartikan sebagai kekuatan, tenaga, semangat vitalitas, energi atau moral dan juga motivasi. Sedangkan spiritual seperti diartikan di atas yang dikaitkan dengan ruh, semangat atau jiwa. Menurut Lines, spirit berasal dari bahasa latin, spiritus, yang berarti “nafas” (yakni “nafas Allah”), dalam bahasa Indonesia disebut juga “ruh”, dalam banyak tradisi ruh adalah sesuatu yang transenden dan memiliki persekutuan dengan manusia[4]. Akhirnya Elkins dalam Lines, mendefinisikan spiritualitas adalah: ”Spiritualitas, yang berasal dari bahasa Latin spiritus, yang berarti ‘nafas dari kehidupan’, adalah sebuah jalan kehidupan dan pengalamannya yang datang melalui kesadaran atas suatu dimensi yang transenden dan ditandai oleh beberapa nilai-nilai yang diidentifikasi dalam kaitannya dengan diri sendiri, orang lain, alam, kehidupan dan apapun yang dipertimbangkannya untuk menjadi sesuatu yang paling baik”[5].
Definisi kecerdasan spiritual sebagai konsep dengan tujuan untuk mengelola dan memberdayakan sumber daya dalam menghadapi atau memecahkan persoalan makna dan dinilai-nilai hidup bermakna telah dikembangkan oleh beberapa tokoh. Zohar  dan  Marshal dalam bukunya SQ Spiritual Intelligence The Ultimate Intelligence  mendifinisikan kecerdasan spiritual sebagai berikut:
“SQ I mean the intelligence with which we address and solve problems of meaning and value, the intelligence whith which we can place our actions and our lives in a widr, richer, meaning-giving context, the intelligence with which we can assess that one course of action or one life-path is more meaningful than another. SQ is the necessary foundation for the effective funcitioning of both IQ and EQ. It is our ultimate intelligence”[6].
 
“Kecerdasan Spiritual menurut Danah Zohar dan Ian Marshall adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai,yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain”[7].
Selain itu, kita dapat menggunakan SQ untuk menjadi lebih cerdas secara spiritual dalam beragama, SQ membawa kita ke jantung segala sesuatu, ke kesatuan di balik perbedaan, ke potensi di balik ekspresi nyata. SQ mampu menghubungkan kita dengan makna, ruh esensial di belakang semua agama besar. Seseorang yang memiliki SQ tinggi mungkin menjalankan agama tertentu, namun tidak secara picik, eksklusif, dan fanatik atau prasangka. Demikian pula tanpa beragama sama sekali[8]. Menurut Buzan, kecerdasan spiritual mampu mengembangkan nilai-nilai pribadi yang terkait dengan konsep-konsep, seperti kebenaran dan kejujuran dan menjadi lebih tahu, kemudian lebih menghayati diri sendiri, serta tergerak untuk terlibat dan membantu masyarakat secara keseluruhan[9].
            Mujib dan Mudzakir mengungkapkan bahwa kecerdasan spiritual lebih merupakan konsep yang berhubungan bagaimana seseorang cerdas dalam mengelola dan mendayagunakan makna-makna, nilai-nilai, dan kualitas-kualitas kehidupan spiritualnya, kehidupan spiritual disini meliputi hasrat untuk hidup bermakna (the will to meaning) yang memotivasi kehidupan manusia untuk senantiasa mencari makna hidup (the meaning of life) dan mendambakan hidup bermakna (the meaningful life)[10].
Adapun definisi lain yang menyebutkan bahwa kecerdasan spiritual yang terletak pada bagian dalam diri manusia yang terhubung dengan kebijaksanaan diluar pikiran sadar manusia dan dimana semua manusia memilikinya, juga disampaikan oleh beberapa tokoh. Brian Draper lebih lanjut menjelaskan definisi kecerdasan spiritual dalam bukunya Spiritual Intelligence A New Way Of Being, yaitu:
“ SQ is the intelligence that rests in that deep part of the self that is connected to wisdom from beyond the ego, or conscious mind; it is the intelligence with which we not only recognize existing values,but with which we creatively discover new values.”[11]
Berdasarkan definisi tersebut, dijelaskan bahwa kecerdasan spiritual terletak di bagian dalam diri yang terhubung ke kebijaksanaan dari luar ego, atau pikiran sadar . Hal itu merupakan kecerdasan yang tidak hanya mengenali nilai-nilai yang ada, tetapi kreatifitas menemuka nilai-nilai baru.
Selain itu, Cindy Wigglesworth dalam bukunya SQ21 The Twenty One Skills Of Spiritual Intelligence juga mendefiniskan kecerdasan spiritual sebagai berikut:
“Spiritual Intelligence is the ability to behave with wisdom and compassion, while maintaining inner and outer peace, regardless of the situation.”[12]
Khalil A. Khavari memberikan definisi tentang kecerdasan spiritual dalam Spiritual Intelligence, Practical Guide To Personal Happiness adalah sebagai berikut:
“Spiritual intelligence is the faculty of our non-material dimension-the human soul. It is the diamond -in- the rough that every one of us has. It must be recognized for what it is, polished to high luster with great determination and used to capture lasting personal happiness.[13]
“Kecerdasan Spiritual adalah fakultas dari dimensi non-material kita atau rohani manusia. Inilah intan yang belum terasah yang kita semua memilikinya. Kita harus mengenalinya apa adanya, menggosoknya hingga mengkilap dengan tekad yang besar dan menggunakannya untuk kebahagiaan yang abadi.”[14]
            Sukidi mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai paradigma kecerdasan spiritual, artinya segi dan ruang spiritual manusia bisa memancarkan cahaya spiritual dalam bentuk kecerdasan spiritual[15]. Kecerdasan  emosi-spiritual  merupakan  dasar  mengenali  dan memahami bagian terdalam dari suara hati kita sendiri dan juga perasaan serta suara hati orang lain, di mana suara hati adalah dasar kecerdasan emosi-spiritual  dalam  membangun  ketangguhan  pribadi  sekaligus membangun ketangguhan sosial.
Dimensi spiritual tidak kalah penting didalam kehidupan manusia bila dibandingkan dengan kecerdasan emosional, karena kecerdasan emosional lebih berpusat pada rekonstruksi hubungan yang bersifat horizontal (sosial), sementara itu dimensi kecerdasan spiritual bersifat vertikal yang sering disebut dengan Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient). Dalam bukunya, Najati mengatakan bahwa Danah Zohar dan Marshall sebagai pengembang pertama tentang kecerdasan spiritual tapi mereka masih berkisar pada wilayah biologis dan psikologis semata. Ia belum menyentuh tataran Ilahiah yang bersifat transendental[16].
Seiring dengan perkembangannya, kini beberapa tokoh mulai memberikan pandangannya pada hubungan kecerdasan spiritual dengan religiusitas, juga tentang kecerdasan spiritual terhadap nilai-nilai ke-Tuhanan atau agama. Wahab dan Amiarso mengatakan bahwa orang yang cerdas secara spiritual adalah orang yang mampu mengaktualisasikan nilai-nilai Ilahiah sebagai manifestasi dari aktifitasnya dalam kehidupan sehari-hari dan berupaya mempertahankan keharmonisan dan keselarasan dalam kehidupannya sebagai wujud dari pengalamannya terhadap tuntutan fitrahnya sebagai makhluk yang memiliki ketergantungan terhadapat kekuatan yang berada diluar jangkauan dirinya, yaitu Sang Maha Pencipta[17].
Musharraf  Hussain menjelaskan definisi kecerdasan spiritual dalam bukunya Seven Steps to Spiritual Intelligence sebagai berikut:
“Spiritual intelligence is the knowledge and understanding of the meaning and purpose of life, and undertaking practices that enhance connection with God and help to acquaire the status of God’s representative on earth (khalifah)[18]. Spiritual Intelligence helps us to understand the human being’s relationship with God, the motivation to love and obey Him so that one lives in conformity to the Divine will, or a sense of God-consciousness where one lives in the Divine presence”[19].
Definisi tersebut menjelaskan  bahwa kecerdasan spiritual merupakan pengetahuan dan pemahaman tentang makna dan tujuan hidup, dan praktik usaha yang meningkatkan hubungan dengan Tuhan dan membantu untuk memperoleh status wakil Tuhan di muka bumi (khalifah). Selain itu, kecerdasan spiritual membantu kita untuk memahami hubungan manusia dengan Tuhan, motivasi untuk mencintai dan menaati-Nya sehingga kehidupannya akan sesuai dengan nilai-nilai ke-Tuhanan atau rasa  kesadaran ke-Tuhanan dimana seseorang hidup didalam naungan ke-Tuhanan.
Kemudian Sinetar mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai pemikiran yang terilhami yang maksudnya adalah kecerdasan yang diilhami oleh dorongan dan efektivitas, keberadaan, atau hidup ke-Ilahian yang menyatukan kita sebagai bagian-bagiannya[20]. Kecerdasan spiritual digunakan untuk menghadapi masalah-masalah eksitensial, yaitu ketika orang secara pribadi merasa terpuruk, terjebak oleh kebiasaan, kekhawatiran dan masalah masa lalu akibat penyakit dan kesedihan. Kecerdasan spiritual dapat juga menjadikan orang lebih cerdas secara spiritual dalam beragama, artinya seseorang yang memiliki kecerdasan tinggi mungkin menjalankan agamanya tidak secara picik, ekslusif, fanatik atau prasangka. Kecerdasan spiritual juga memungkinkan orang untuk menyatukan hal-hal yang bersifat intrapersonal dan interpersonal, serta menjembatani kesenjangan antara diri sendiri dan orang lain. Seorang yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi cenderung menjadi seorang pemimpin yang penuh pengabdian, bertanggungjawab untuk membawakan visi dan nilai yang lebih tinggi kepada orang lain, dan bisa memberi inspirasi kepada orang lain[21].
Kecerdasan spiritual berdasarkan definisi tersebut dapat diungkapkan melalui beberapa aspek dalam pandangan berikut, yaitu[22]:
  • Pertama, kecerdasan spiritual dipandang dari sudut spiritual keagamaan yang  mencakup: frekuensi doa,  makhluk spiritual,  kecintaan  pada Tuhan YME yang bersemayam dalam hati, dan rasa syukur ke hadirat-Nya.
  • Kedua, kecerdasan spiritual dipandang dari segi relasi sosial-keagamaan yang mencakup: ikatan kekeluargaan antar sesama, peka terhadap kesejahteraan orang lain, peka terhadap binatang-binatang, dan sikap dermawan.
  • Ketiga, kecerdasan spiritual dipandang dari sudut etika sosial yang mencakup: ketaatan pada etika dan  moral,  kejujuran, amanah dan dapat dipercaya, sikap sopan,  toleran, dan anti kekerasan. Dalam ciri-ciri tersebut mengimplementasikan bahwa seseorang yang  memiliki kecerdasan spiritual tinggi mampu untuk melaksanakan hal-hal yang mencakup dalam ciri-ciri tersebut.
Agustian juga menjelaskan bahwa kecerdasan spiritual adalah kemampuan yang memberikan makna terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia yang seutuhnya (hanif) dan memiliki pola pikiran tauhidi (integral-realistik) serta bersifat hanya kepada Allah[23]. Salah satu fitrah itu adalah kecenderungan terhadap agama, dan ini sesuai dengan firman Allah SWT. Sebagai berikut:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam). Tetapkanlah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya”. (QS-al-Rum:30)[24].
 
Dalam kaitannya dengan fitrah manusia, Hasan Langgulung menyatakan bahwa salah satu ciri fitrah ini adalah manusia menerima Allah sebagai Tuhan, dengan kata lain, manusia itu adalah dari asal mempunyai kecenderungan beragama, sebab agama itu sebagian dari fitrah-Nya[25].
Dengan demikian, Tasmara mengatakan bahwa kecerdasan ruhaniah sangat erat kaitannya dengan cara dirinya mempertahankan prinsip lalu bertangung jawab untuk melaksankan prinsip-prinsipnya itu dengan tetap menjaga keseimbangan dan melahirkan nilai manfaat yang berkesesuaian. Prinsip merupakan fitrah paling mendasar bagi harga diri manusia. Nilai takwa atau tanggung jawab merupakan ciri seorang profesional[26].
Dari pemaparan definisi tersebut diatas memiliki tiga prinsip , dapat diambil beberapa point penting tentang kecerdasan spiritual dalam beberapa hal berikut:
  1. Sesungguhnya spiritualitas manusia sudah ada dalam dirinya yang merupakan unsur terdalam yang terhubung dengan nilai-nilai dan dimiliki oleh semua orang. Segi dan ruang spiritual dapat memancarkan cahaya spiritual dalam bentuk kecerdasan spiritual. Apabila diasah dengan tekad yang besar dapat digunakan untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi.
  2. Kecerdasan spiritual sebagai konsep dalam menghadapi dan memecahkan persoalan makna hidup dan nilai-nilai hidup bermakna. Dalam prinsip ini dapat dikaitkan dengan tujuan dari kecerdasan spiritual itu sendiri adalah menggapai makna hidup.
  3. Kecerdasan spiritual dapat membantu manusia dalam menjalankan kehidupannya dengan penuh makna sesuai nilai-nilai fitrah manusia dalam hubungannya dengan Tuhan (vertical), maupun hubungannya kepada sesama manusia dan makhluk ciptaan-Nya yang lain (horizontal).
Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan bahwa kecerdasan spiritual adalah kemampuan seseorang untuk memberikan makna spiritual terhadap nilai-nilai fitrah manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan dan makhluk sosial dalam dirinya. Seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual mampu memberikan makna dalam hubungannya dengan Sang Pencipta dan hubungannya dengan sesama makhluk di sekitarnya. Sehingga, seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual memiliki kualitas hubungan yang tinggi kepada Tuhannya dan kepada sesama makhluk di sekitarnya, dengan demikian dia dapat menjawab persoalan yang berkaitan dengan makna hidup dan hidup bermakna.
[1] Sarwono, S.W., 2000., Pengantar Umum Psikologi., Jakarta: Bulan Bintang, hal. 70.
[2]Ibid., hal. 71.
[3]Chaplin, J.P., 2002. Kamus Lengkap Psikologi (terjemahan). Jakarta: Rajawali Press, hal. 253.
[4]Lines, D., 2006., Spirituallity in Counselling and Psychotheraphy.London: Sage Publications, hal. 34
[5]Ibid., hal. 36
[6] Danah Zohar and Ian Marshall, 2000.  SQ Spiritual Intelligence the Ultimate Intelligence. London: Bloomsbury Publishing, hal. 3-4.
[7]Danah Zohar dan Ian Marshall,2002. SQ : Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berflikir Integralistik dan Holistik Untuk Memaknai Kehidupan. Terjemah: Rahmani Astuti, dkk. Bandung: Mizan,
ha1. 4.
[8]Danah Zohar dan Ian Marshall, Op. cit., h1m. 12.
[9] Tony Buzan, 2003. The Power Spiritual Intelligence: Sepuluh Cara Jadi Orang Yang Cerdas Secara Spiritual. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,  hal. xiv
[10] Abdul Mujib Dan Jusuf Mudzakir, 2001. Nuansa-Nuansa Psikologi Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, hal.  324
[11] Brian Draper, 2009. Spiritual Intelligence A New Way Of Being. Oxford OX2 8DR, England: Lion Hudson, hal. 12
[12]Cindy Wigglesworth, 2012. SQ21 The Twenty One Skills Of Spiritual. New York: SelectBooks, hal. 39.
[13]Khalil A. Khavari, 2000. Spiritual Intelligence, Practical Guide to Personal Happiness. Canada: White Mountain, hal. 19
[14] Rusly Arnin, 2002.  Pencerahan Spiritual; Sukses Membangun Hidup Damai dan Bahagia. Jakarta: Al-Mawardi Putra, ha1. IV.
[15]Sukidi, 2002. Rahasia Sukses Hidup Bahagia ; Kecerdasan Spiritual; Mengapa SQ Lebih Penting dari IQ dan EQ. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka, hal. 49.
[16]M. Utsman Najati, 2002. Belajar EQ dan SQ dari Sunnah Nabi. Jakarta: Penerbit Hikmah, hal. vii
[17] Abd. Wahab dan Umiarso, 2011. Kepemimpinan Pendidikan dan Kecerdasan Spiritual. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, hal. 52.
[18] Musharraf Hussain, 2014. Seven Steps to Spiritual Intelligence. England: Kube Publishing, hal. 18
[19]Ibid., hal. 19
[20] Marsha Sinetar, 2001. Spiritual Intelligence Kecerdasan Spiritual. Terjemah: Soesanto Boedidarmo. Jakarta: PT Elex Media Komputindo, hal. 12-13.
[21] Daru Asih, loc.cit.
[22] Sukidi, 2004. Rahasia Sukses Hidup Bahagia Kecerdasan Spiritual Mengapa SQ Lebih Penting Daripada IQ Dan EQ. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, hal 80-85
[23]Ary Ginanjar Agustin, 2002. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosional dan
Spiritual; ESQ, Jakarta: Arga, hal. 29
[24] Kementrian Agama RI, 2010. Terjemah Tafsir Per Kata. Bandung: CS Insan Kamil, hal. 407
[25] Hasan Langgulung, 2004. Manusia dan Pendidikan: Suatu Analisis Psikologis Filsafat dan Pendidikan. Jakarta: Pustaka Alhusna, hal. 66.
[26] Toto Tasmara, 2001. Kecerdasan Ruhaniah (Transcendental Intelligence). Jakarta: Gema Insani Press, hal. 6.