DIMENSI KECERDASAN SPIRITUAL
Oleh:
Yamani Muhammad Dira, S.Psi, MM
C.HRNLP, CT.HRNLP, CM.NLP, C.NLC, CT. NLP
Zohar dan Marshall mengungkapkan ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecerdasan spiritual [1]yaitu :
a. Sel saraf otak
Otak menjadi jembatan antara kehidupan bathin dan lahiriah kita. Ia mampu menjalankan semua ini karena bersifat kompleks, luwes, adaptif dan mampu mengorganisasikan diri. Menurut penelitian yang dilakukan pada era 1990-an dengan menggunakan WEG (Magneto – Encephalo –Graphy) membuktikan bahwa osilasi sel saraf otak pada rentang 40 Hz merupakan basis bagi kecerdasan spiritual.
b. Titik Tuhan (God spot)
Dalam penelitian Rama Chandra menemukan adanya bagian dalam otak, yaitu lobus temporal yang meningkat ketika pengalaman religius atau spiritual berlangsung. Dia menyebutnya sebagai titik Tuhan atau God Spot. Titik Tuhan memainkan peran biologis yang menentukan dalam pengalaman spiritual. Namun demikian, titik Tuhan bukan merupakan syarat mutlak dalam kecerdasan spiritual. Perlu adanya integrasi antara seluruh bagian otak, seluruh aspek dari dan seluruh segi kehidupan.
Sedangkan menurut Sinetar, faktor-faktor yang mendukung kecerdasan spiritual otoritas intuitif, yaitu kejujuran, keadilan, kesamaan perlakuan terhadap semua orang dan mempunyai faktor yang mendorong (motivasi) kecerdasan spiritual. Suatu dorongan yang disertai oleh pandangan luas tentang tuntutan hidup dan komitmen untuk memenuhinya[2].
Menurut Tasmara, ada tiga sebab yang membuat seseorang dapat terhambat secara spiritual[3], yaitu :
1) Tidak mengembangkan beberapa bagian dari dirinya sendiri sama sekali.
2) Telah mengembangkan beberapa bagian, namun tidak proporsional.
3) Bertentangannya atau buruknya hubungan antara bagian-bagian.
Selain itu faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan spiritual menurut Agustian[4] adalah inner value (nilai-nilai spiritual dari dalam) yang berasal dari dalam diri (suara hati), seperti transparency (keterbukaan), responsibilities (tanggung jawab), accountabilities (kepercayaan), fairness (keadilan) dan social wareness (kepedulian sosial). Faktor kedua adalah drive yaitu dorongan dan usaha untuk mencapai kebenaran dan kebahagiaan.
Dengan adanya factor-faktor yang membentuk kecerdasan spiritual tersebut, maka dimensi-dimensi yang terdapat
- Dimensi Pemikiran Spiritual
Pikiran adalah tindakan mental. Sehat pikiran berarti sehat pula mental seseorang, secara umum[5]. Dengan berpikir, manusia bisa membedakan yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, antara yang halal dan yang haram, antara yang positif dan negative. Dengan begitu, ia bisa memilih yang cocok bagi dirinya dan bertanggung jawab atas pilihannya[6].
Pemikiran yang bersifat fitrah, merupakan potensi berfikir yang dimiliki oleh manusia. Potensi ini lebih kepada bagaimana seseorang secara fitrahnya berfikir untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Sang Pencipta. Pada dimensi ini, kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan memberikan makna spiritual terhadap pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia seutuhnya (kamil) sebagai makhluk Tuhan yang dibekali dengan akal.
Kecerdasan spiritual adalah kemampuan seseorang untuk mendengarkan suara hati sebagai bisikan kebenaran yang berasal dari Allah SWT, ketika seseorang mengambil keputusan atau melakukan pilihan, berempati, dan beradaptasi. Potensi ini sangat ditentukan oleh upaya membersihkan qalbu dan memberikan pencerahan qalbu, sehingga mampu memberikan nasehat dan mengarahkan tindakan, bahkan akhirnya menuntut seseorang dalam mengambil tiap-tiap keputusan[7]
Menurut Zohar dan Marshall[8] tanda-tanda kecerdasan spiritual yang telah berkembang baik dalam diri seseorang dapat dilihat pada aspek:
– Tingkat kesadaran diri yang tinggi. Kemampuan seseorang yang mencakup usaha untuk mengetahui batas wilayah yang nyaman untuk dirinya, yang mendorong seseorang untuk merenungkan apa yang dipercayai dan apa yang dianggap bernilai, berusaha untuk memperhatikan segala macam kejadian dan peristiwa dengan berpegang pada agama yang diyakininya.
– Berpikir secara holistic. Kecenderungan seseorang untuk melihat keterkaitan berbagai hal. Kecenderungan untuk bertanya mengapa dan bagaimana jika untuk mencari jawaban-jawaban yang mendasar.
- Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai- nilai. Kualitas hidup seseorang yang didasarkan pada tujuan hidup yang pasti dan berpegang pada nilai-nilai yang mampu mendorong untuk mencapai tujuan tersebut.
Dalam pandangan lain, Sinetar menuliskan beberapa aspek dalam kecerdasan spiritual[9], salah satunya yaitu, kemampuan seni untuk memilih. Kemampuan untuk memilih dan menata hingga ke bagian-bagian terkecil ekspresi hidupnya berdasarkan suatu visi batin yang tetap dan kuat yang memungkinkan hidup mengorganisasikan bakat.
Pada sisi lain, Mahayana dalam Nggermanto menyebutkan beberapa ciri orang yang mempunyai kecerdasan spiritual antara lain :
- Memiliki prinsip dan visi yang kuat. Prinsip adalah kebenaran yang dalam dan mendasar ia sebagai pedoman prilaku yang mempunyai nilai yang langgeng dan produktif. Prinsip manusia secara jelas tidak akan berubah, yang berubah adalah cara kita mengerti dan melihat prinsip tersebut. Semakin banyak kita tahu mengenai prinsip yang benar semakin besar kebebasan pribadi kita untuk bertindak dengan bijaksana.
- Memaknai. Makna bersifat substansial, berdimensi spiritual. Makna adalah penentu identitas sesuatu yang paling signifikan. Sesorang yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi akan mampu memaknai atau menemukan makna terdalam dari segala sisi kehidupan, baik karunia tuhan yang berupa kenikmatan atau ujian dari_Nya. Ia juga merupakan manisfestasi kasih sayang dari_Nya. Ujiannya hanyalah pendewasaan spiritual manusia.
Selain itu, indikator kecerdasan spiritual menurut Tasmara adalah :
- Memiliki Visi. Memiliki visi maksudnya adalah cara melihat hari esok, menetapkan visi berdasarkan alasan-alasan yang dapat dipertanggung jawabkan. Visi atau tujuan setiap yang cerdas secara spiritual akan menjadikan pertemuan dengan Allah sebagai puncak dari pertanyaan visi pribadinya yang kemudian dijabarkan dalam bentuk perbuatan baik yang terukur dan terarah.
- Berdzikir dan Berdoa. Berdzikir dan berdoa merupakan sarana sekaligus motivasi diri untuk menampakan wajah seorang yang bertanggung jawab. Zikir dan doa mengingatkan perjalanan untuk pulang dan berjumpa dengan yang dikasihinya. Zikir dan doa juga menumbuhkan kepercayaan diri karena menumbuhkan keinginan untuk memberikan yang terbaik pada saat seseorang kembali kelak, selain itu akan berpendirian teguh tanpa keraguan dalam melaksanakan amanahnya.
Dari beberapa pandangan yang disebutkan di atas, dimensi kecerdasan spiritual dalam hal ini dapat disebut juga dengan pemikiran spiritual, yang dengannya seseorang dapat menjawab persoalan makna hidup dan dapat menjalankan hidup bermakna. Pemikiran spiritual akan mempengaruhi cara berfikir seseorang dalam menjawab persoalan makna hidup yang timbul dalam dirinya, dan dapat mengetahui bagaimana dia menjalankan hidup yang bermakna.
Jiwa yang bersifat fitrah, merupakan bentuk potensi murni yang dimiliki manusia. Fitrah dalam arti murni (Al-Ikhlas), hal ini dapat dikatakan karena manusia lahir dengan membawa berbagai sifat, salah satu diantaranya adalah kemurnian (keikhlasan) dalam menjalankan suatu aktivitas[10]. Kecerdasan spiritual pada diri seseorang memiliki tanda-tanda pada beberapa aspek berikut[11]:
- Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit. Kemampuan seseorang dimana di saat dia mengalami sakit, ia akan menyadari keterbatasan dirinya, dan menjadi lebih dekat dengan Tuhan dan yakin bahwa hanya Tuhan yang akan memberikan kesembuhan.
- Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan. Kemampuan seseorang dalam menghadapi penderitaan dan menjadikan penderitaan yang dialami sebagai motivasi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di kemudian hari.
- Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu. Seseorang yang mempunyai kecerdasan spiritual tinggi mengetahui bahwa ketika dia merugikan orang lain, maka berarti dia merugikan dirinya sendiri sehingga mereka enggan untuk melakukan kerugian yang tidak perlu.
Dalam hal ini, ciri orang yang mempunyai kecerdasan spiritual antara lain adalah kesulitan dan penderitaan. Pelajaran yang paling berarti dalam kehidupan manusia adalah pada waktu ia sadar bahwa itu adalah bagian penting dari subtsansi yang akan mengisi dan mendewasakan sehingga ia menjadi lebih matang, kuat, dan lebih siap menjalani kehidupan yang penuh rintangan dan penderitaan. Pelajaran tersebut akan mengukuhkan pribadinya setelah ia dapat menjalani dan berhasil untuk mendapatkan apa maksud terdalam dari pelajaran tadi. Kesulitan akan mengasah menumbuh kembangkan, hingga pada proses pematangan dimensi spiritual manusia. Kecerdasan spiritual mampu mentransformasikan kesulitan menjadi suatu medan penyempurnaan dan pendidikan spiritual yang bermakna. Kecerdasan spiritual mampu memajukan seseorang karena pelajaran dari kesulitan dan kepekaan terhadap hati nuraninya[12].
Pada sisi lain Sinetar juga menyebutkan bahwa aspek kecerdasan spiritual yang dimiliki seseorang diantaranya adalah:
– Kemampuan mengikuti cinta. Memilih antara harapan-harapan orang lain di mata
seseorang penting atau ia Cintai.
– Disiplin pengorbanan diri. Mau berkorban untuk orang lain, pemaaf tidak prasangka mudah untuk memberi kepada orang lain dan selalu ingin membuat orang lain bahagia.
Ada sepuluh aspek-aspek dalam kecerdasan spiritual yang disebut sebagai “Ten Graces” yang secara kesatuan membentuk SQ[13], beberapa diantaranya, yaitu:
– Belas kasih: memahami diri sendiri dan orang lain.
– Memberi dan menerima.
– Kekuatan tawa – tertawa adalah sebuah kualitas SQ yang penting sekali. Memanfaatkannya dapat mengurangi tingkat stress dan umumnya membuat seseorang lebih ceria dan lebih bahagia.
– Kekuatan ritual – agar mampu meningkatkan stabilitas spiritual dan emosional, mengurangi stress, menjadi lebih tekun, lebih yakin, lebih kuat dan lebih percaya diri.
– Ketenteraman.
– Kekuatan cinta – yang diperlukan hanyalah cinta.
Sedangkan menurut Sinetar, faktor-faktor yang mendukung kecerdasan spiritual otoritas intuitif, yaitu kejujuran, keadilan, kesamaan perlakuan terhadap semua orang dan mempunyai faktor yang mendorong (motivasi) kecerdasan spiritual. Suatu dorongan yang disertai oleh pandangan luas tentang tuntutan hidup dan komitmen untuk memenuhinya[14].
Lebih jauh Usman Najati, menyebutkan beberapa indikator tentang kesehatan jiwa diantaranya sebagai berikut[15]:
1. Aspek Ruh. Aspek ruhani merupakan aspek yang berkaitan dengan jiwa seseorang ataupun hati nurani. Mengaplikasikan rukun Iman, selalu merasakan kedekatan dengan Allah, memenuhi kebutuhan-kebutuhan dengan sesuatu yang halal, selalu berdzikir kepada Allah.
2. Aspek Jiwa. Jujur terhadap jiwa, hati tidak iri, dengki, dan benci, menerima jati diri, mampu mengatasi depresi, mampu mengatasi perasaan gelisah, menjauhi sesuatu yang menyakiti jiwa (sombong, berbangga diri, boros, kikir, malas, pesimis), memegang prinsip-prinsip syariat, keseimbangan emosi, lapang dada, spontan, menerima kehidupan, mampu menguasai dan mengontrol diri, sederhana, ambisius, percaya diri.
Selain itu faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan spiritual menurut Agustian[16] adalah inner value (nilai-nilai spiritual dari dalam) yang berasal dari dalam diri (suara hati), seperti transparency (keterbukaan), responsibilities (tanggung jawab), accountabilities (kepercayaan), fairness (keadilan) dan social wareness (kepedulian sosial). Faktor kedua adalah drive yaitu dorongan dan usaha untuk mencapai kebenaran dan kebahagiaan.
Selain itu, indikator kecerdasan spiritual menurut Tasmara adalah :
- Merasakan Kehadiran Allah. Seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual akan merasakan dirinya berada dalam limpahan karunia Allah, dalam suka dan duka atau dalam sempit dan lapang tetap merasakan kebahagiaan karena bertawakal kepada Allah.
- Memiliki kualitas sabar. Sabar adalah terpatrinya sebuah harapan yang kuat untuk menggapai cita-cita atau harapan, sehingga orang yang putus asa berarti orang yang kehilangan harapan atau terputusnya cita-cita. Sabar berarti memiliki ketabahan dan daya yang sangat kuat untuk menerima beban, ujian atau tantangan tanpa sedikitpun mengubah harapan untuk menuai hasil yang telah ditanam.
- Memiliki empati. Empati adalah kemampuan seseorang untuk memahami orang lain. Merasakan rintihan dan mendengarkan debar jantung, sehingga mereka mampu beradaptasi dengan merasakan kondisi batiniah dari orang lain.
- Berjiwa besar. Jiwa besar adalah keberanian untuk memaafkan dan sekaligus melupakan perbuatan yang pernah dilakukan oleh orang lain.
Dalam dimensi jiwa yang bersifat firah ini, kecerdasan spiritual adalah kemampuan memberikan makna spiritual terhadap fungsi jiwa manusia yang bersifat fitrah, menuju manusia seutuhnya (mukhlishin) yang jiwa selalu merasakan kedekatan dengan Tuhannya. Atas kedekatan dengan Tuhannya jiwanya menjadi jujur, hati tidak iri, dengki, dan benci, menerima jati diri, mampu mengatasi depresi, mampu mengatasi perasaan gelisah, menjauhi sesuatu yang menyakiti jiwa (sombong, berbangga diri, boros, kikir, malas, pesimis), memegang prinsip-prinsip syariat, keseimbangan emosi, lapang dada, spontan, menerima kehidupan, mampu menguasai dan mengontrol diri, sederhana, ambisius, percaya diri. Hal ini dapat dikatakan dengan jiwa spiritual. Jiwa spiritual merupakan naluri perasaan yang dilandasi oleh nilai-nilai ke-Tuhanan, menuju manusia seutuhnya yang dapat merasakan makna hidup dan merasakan hidup yang bermakna pada jiwanya
Tindakan/Prilaku yang bersifat fitrah. Fitrah dalam artian potensi dasar manusia sebagai alat untuk mengabdi dan ma’rifatullah. Penafsiran demikian banyak dikemukakan oleh para filosof dan fuqaha’. Para filosof yang beraliran empirisme memandang aktivitas fitrah sebagai tolok ukur pemaknaannya. Demikian halnya dengan para fuqaha’ yang memandang haliah manusia sebagai cerminan dari jiwanya, sehingga hukum dikatakan menurut apa yang terlihat, bukan pada hakikat dibalik perbuatan tersebut. Firman Allah:
“ Mengapa aku tidak menyembah (Allah) yang telah menciptakanku”. (QS. Yasin:22)
Ayat di atas memaknai lafadz laa’budu dengan lafadz fathara, yang membawa implikasi pada wujud fitrah yang ditandai dengan ibadahnya kepada Sang Pencipta[17].
Kecerdasan spiritual pada dimensi ini adalah kemampuan memberikan makna spiritual terhadap tindakan/prilaku yang bersifat fitrah, menuju manusia seutuhnya (‘amilin) yang setiap tindakan dan kegiatannya dalam kebaikan hanya untuk Tuhannya semata. Atas tindakan/perbuatannya yang didasari oleh nilai-nilai ke-Tuhanan terwujudlah sikap sosial yang baik dalam interaksinya dengan sesama makhluk di sekitarnya. Mencintai kedua orang tua, mencintai pendamping hidup, mencintai anak, membantu orang yang membutuhkan, amanah, berani mengungkap kebenaran, menjauhi hal-hal yang menyakiti orang lain (seperti bohong, menipu, mencuri, zina, membunuh, saksi palsu, memakan harta anak yatim, menyebar fitnah, iri, dengki, ghibah, namimah, khianat, zalim) jujur terhadap orang lain, mencintai pekerjaan, mempunyai tanggung jawab sosial.
Beberapa tanda yang dimiliki seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual yang berkembang baik dalam dirinya menurut Zohar dan Marshall, yaitu[18]:
- Kemampuan bersikap fleksibel. Kemampuan seseorang untuk bersikap adaptif secara spontan dan aktif, memiliki pertimbangan yang dapat dipertanggungjawabkan di saat mengalami dilematis.
- Menjadi pribadi mandiri. Kemampuan seseorang yang memilki kemudahan untuk bekerja melawan konvensi dan tidak tergantung dengan orang lain.
Dalam pandangan lain, Sinetar menuliskan beberapa aspek dalam kecerdasan spiritual diantaranya, yaitu[19]:
– Kemampuan seni untuk melindungi diri. Individu mempelajari keadaan dirinya, baik bakat maupun keterbatasannya untuk menciptakan dan menata pilihan terbaiknya.
– Kedewasaan yang diperlihatkan. Kedewasaan berarti seseorang tidak menyembunyikan kekuatankekuatannya dan ketakutan.
Pada sisi lain, Usman Najati pun menyebutkan aspek tentang kesehatan jiwa pada diri sesorang diantaranya sebagai berikut:
– Aspek Biologis. Aspek biologis berkaitan dengan kesehatan seseorang. Terbebas dari penyakit, tidak cacat, membentuk konse positif terhadap fisik, menjaga kesehatan, tidak membebani fisik kecuali dalam batas-batas batas kemampuannya.
– Aspek Sosial. Aspek sosial berkaitan dengan hubungan dengan sesama manusia. Mencintai kedua orang tua, mencintai pendamping hidup, mencintai anak, membantu orang yang membutuhkan, amanah, berani mengungkap kebenaran, menjauhi hal-hal yang menyakiti orang lain (seperti bohong, menipu, mencuri, zina, membunuh, saksi palsu, memakan harta anak yatim, menyebar fitnah, iri, dengki, ghibah, namimah, khianat, zalim) jujur terhadap orang lain, mencintai pekerjaan, mempunyai tanggung jawab sosial.
Mahayana dalam Nggermanto menyebutkan beberapa ciri orang yang mempunyai kecerdasan spiritual antara lain adalah kesatuan dan keragaman. Seorang dengan spiritual yang tinggi mampu melihat ketunggalan dalam keragaman. Ia adalah prinsip yang mendasari kecerdasan spiritual, sebagaimana Buzan (2003) mengatakan bahwa “kecerdasan spiritual meliputi melihat gambaran yang menyeluruh, ia termotivasi oleh nilai pribadi yang mencangkup usaha menjangkau sesuatu selain kepentingan pribadi demi kepentingan masyarakat”.
Selain itu, indikator kecerdasan spiritual menurut Tasmara adalah :
- Cenderung pada kebaikan. Orang yang selalu cenderung kepada kebaikan dan kebenaran adalah bertipe manusia yang tanggungjawab. Islah bisa dikategorikan dalam cenderung pada kebaikan. Islah adalah memberikan makna suatu kondisi atau pekerjaan yang memberi manfaat serta berkesesuaian (conform).
- Melayani dan menolong. Budaya melayani dan menolong (salvation) merupakan bagian dari citra diri seorang muslim. Mereka sadar bahwa kehadiran dirinya tidak terlepas dari tanggungjawab terhadap lingkungan. Individu ini akan senantiasa terbuka hatinya terhadap keberadaan oranglain dan merasa terpanggil atau ada semacam ketukan yang sangat keras dari lubuk hatinya untuk melayani.
Dimensi kecerdasan spiritual ini dapat disebut juga dengan tindakan spiritual. Tindakan spiritual merupakan tindakan/ perbuatan yang di landasi oleh nilai-nilai ke-Tuhanan, menuju manusia seutuhnya (sebaik-baik manusia) yang atas tindakan/prilakunya memiliki manfaat bagi dirinya dan lingkungan di sekitarnya. Dengan tindakan/prilaku yang bermanfaat dia dapat menjalankan hidup yang bermakna.
[1] Zohar and Marshall, op.cit., hal. 35-38
[2]Sinetar, Kecerdasan Spiritual, ibid, h. 42
[3] Tasmara, op.cit., hal. 6.
[4]Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Emotional Spiritual Quotient Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam.Jakarta: Arga Wijaya Persada, 2001), h. 45
[5] M. Utsman Najati, op.cit., hal. 1.
[6] Ibrahim ElFiky, 2019. Terapi Berpikir Positif, Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, hal.3
[7]Tasmara, op.cit., hal. 48
[8]Danah Zohar dan Ian Marshall,2007. SQ : Kecerdasan Spiritua. Bandung: Mizan, hal 14
[9] Marsha Sinetar, 2001. Kecerdasan Spiritual. Bandung: Mizan Pustaka, hal. 65
[10] Sururin.2004.Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: PT Grafindo Persada, hal.34
[11] Danah Zohar dan Ian Marshall,2007. SQ : Kecerdasan Spiritua. Bandung: Mizan, hal 14
[12] Agus Nggermanto, 2005. Quantum Quotient:Kecerdasan Quantum Cara
Praktis Melejitkan IQ,EQ dan SQ yang Harmonis. Bandung: Nuansa h. 113
[13] Tony Buzan., The Power Of Spiritusl Intellegence: 10 ways to Tap into Your Spiritual Genius,…,xxv-xxviii.
[14]Sinetar, Kecerdasan Spiritual, ibid, h. 42
[15]Ibid., hal. 4-5
[16]Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Emotional Spiritual Quotient Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam.Jakarta: Arga Wijaya Persada, 2001), h. 45
[17] Sururin.2004.Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: PT Grafindo Persada, hal.35
[18] Danah Zohar dan Ian Marshall,2007. SQ : Kecerdasan Spiritua. Bandung: Mizan, hal 14
[19] Marsha Sinetar, 2001. Kecerdasan Spiritual. Bandung: Mizan Pustaka, hal. 65